(Mulai dari sini)

Hai teman, apakabar?

Hai sahabat, bagaimana harimu?

Aku rindu. Kita sudah lama tidak bertemu

Kapan kau memunculkan batang hidungmu?

Walau aslinya kau pesek, ah sudahlah.

 

Pesek-pesek begini aku ini ngegemesin

Buktinya kau rindu, ingin bertemu

 

Kau juga rindu kan?

Dengan hujatanku.

 

Diam kau.

Belum bertemu, sudah menghujat

Tak habis pikir makhluk apa kau ini

Kenapa pula aku ini mau berteman denganmu

Mungkin setengah kesadaranku hilang saat itu

Sehingga aku bisa berteman denganmu

 

 

Aku rindu.

Menghujatmnu di ruangan pembawa kantuk.

Menganggumu waktu suasana serius.

Menagih es krim saat nilamu mendekati sempurna.

Memanfaatkanmu walaupun itu hanya fantasi.

 

Sama aku juga.

Aku rindu menertawakanmu bocah SMP

Menertawaimu karena mukamu kusut penuh kesal dengan abang grab

Menghujatmu karna kau paling takut dengan hujan

Atau meledekmu yang suka bengong di pagi hari

 

Mengapa kau ingin berteman denganku?

Aku selalu mengusikmu.

Aku tidak sepintar yang lainnya.

Aku mendekati aneh.

Tidak ada yang bisa dimanfaatkan dariku.

 

Mengapa untuk berteman perlu alasan?

Mengapa ukuran kepintaran menjadi suatu patokan?

Mengapa pula teman ingin memanfaatkan temannya?

Bukankah untuk berteman, kita hanya perlu menjadi diri sendiri?

 

Seharusnya aku memanfaatkanmu.

Membenci atas keambisanmu.

Percaya adalah hal terakhir yang kurasakan.

Akan tetapi ku tak sanggup melakukannya.

 

Terima kasih untuk tidak melakukannya,

Terima kasih sudah percaya,

Dan terima kasih pula akan kenyataan akhirnya kita berteman

Kuharap kita saling bertahan, saling menguatkan satu sama lain, dan tidak akan pernah meninggalkan

 

Jika kita lama tak berjumpa.

Jangan lupa aku.

Jangan lupa persahabatan kita.

Jangan segan menyapaku.

Karena, aku selalu mengingatmu.

 

Baiklah, ucapku.

 

 

by : Freesaster & Silent.x_monster

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *